KIBARKAN AR-ROYAH ALLAHUAKBAR!!!

Khilafah

Bantu promo blog Syabab-Uridu-Khilafah, copy code diatas dan paste kat mana-mana profile Friendster, Blog etc antum. ~Jazakallahu Khoir~

MY BLOG FOLLOWER

Wednesday, June 22, 2011

Pakaian Muslimah Di Luar Rumah


Dalam islam tidak semua perkara yang disangkakan oleh akal adalah boleh bererti boleh, dan tidak semua perkara yang disangka oleh akal tidak boleh adalah tidak boleh. sebagai contoh bagaimana pemakaian muslimah.

Mungkin ada di antara kita yang sering menyamakan antara pakaian muslimah di luar rumah dan pakaian ketika dalam rumah sehingga ada yang menyatakan kepada kita kewajibannya sama hanya sekadar memakai tudung, dengan apa gaya sekalipun, dan mamakai baju apa bentuk sekalipun.




Sehingga tidak bisa tidak kita lihat generasi muslimah
hari ini, ada yang menyerupai lelaki dengan berseluar, memakai pakaian yang ketat, dan sebagainya. Namun persoalannya disini benarkah seperti ini? mari kita sama-sama bincangkan.

Pertama kita mulakan perbincangan dengan firman Allah:

وَقُل لِّلۡمُؤۡمِنَـٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَـٰرِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَا‌ۖ وَلۡيَضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِہِنَّ‌ۖ

Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram) dan memelihara kehormatan mereka dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang zahir daripadanya; dan hendaklah mereka menutup belahan leher bajunya dengan tudung kepala mereka; (Surah AN Nur: 31)


dan kedua firman Allah:

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّأَزۡوَٲجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ يُدۡنِينَ عَلَيۡہِنَّ مِن جَلَـٰبِيبِهِنَّۚ ذَٲلِكَ أَدۡنَىٰٓ أَن يُعۡرَفۡنَ فَلَا يُؤۡذَيۡنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورً۬ا رَّحِيمً۬ا (٥٩)

Wahai Nabi, suruhlah isteri-isterimu dan anak-anak perempuanmu serta perempuan-perempuan yang beriman, supaya melabuhkan pakaiannya bagi menutup seluruh tubuhnya (semasa mereka keluar); cara yang demikian lebih sesuai untuk mereka dikenal (sebagai perempuan yang baik-baik) maka dengan itu mereka tidak diganggu dan (ingatlah) Allah adalah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani. (Surah Al-Ahzab : 59).

Untuk firman Allah yang pertama diatas pada ayat 31 surah An-Nur Alhamdulillah rata-rata dari kita jelas dan itulah ayat hukum berkenaan tudng yang perlu menutupi kepala hingga ke dada di mana tudung yang bahasa Arabnya adalah khimar, Allah SWT berfirman:

وَلۡيَضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِہِنَّ‌ۖ

"…Dan hendaklah mereka menutupkan kain tudung ke dadanya…" (QS An-Nur : 31). Dalam ayat ini, terdapat kata خُمُرِ (khumur), yang merupakan bentuk jamak (plural) dari khimaar. erti khimaar adalah tudung, iaitu apa-apa yang dapat menutupi kepala (maa yughaththa bihi ar-ra`su). sejajar dan boleh di rujuk ke (Tafsir Ath-Thabari, 19/159; Ibnu Katsir, 6/46; Ibnul 'Arabi, Ahkamul Qur`an, 6/65 ).

Namun bagaimana pula dengan firman ALlah yang kedua:

يُدۡنِينَ عَلَيۡہِنَّ مِن جَلَـٰبِيبِهِنَّۚ

supaya melabuhkan pakaiannya bagi menutup seluruh tubuhnya (semasa mereka keluar) (Al AHzab:59)

apakah maksud جَلَـٰبِيبِ (jalabib) disini apakah sama dengan tudung. anggapan jalabib atau jilbab kata singgularnya sama dengan tudung adalah kenyataan yang tak tepat.





Ini kerana jilbab tak sama dengan tudung. jilbab adalah busana bagian bawah (al-libas al-adna) berupa jubah, iaitu baju longgar terusan yang dipakai di atas baju. Sedang tudung seperti mana yang di sampaikan di atas merupakan busana bahagian atas (al-libas al-a'la) iaitu penutup kepala. (rujuk Rawwas Qal'ah Jie, Mu'jam Lughah Al-Fuqaha`, hal. 124 & 151; Ibrahim Anis dkk, Al-Mu'jam Al-Wasith, 2/279 & 529).

memang ada dikalangan para mufassir yang berbeza pendapat mengenai erti jilbab. COntohnya Imam Syaukani dalam Fathul Qadir (6/79), misalnya, menjelaskan beberapa penafsiran tentang jilbab. Imam Syaukani sendiri berpendapat jilbab adalah baju yang lebih besar daripada tudung, dengan mengutip pendapat Al-Jauhari pula pengarang kamus Ash-Shihaah, bahwa jilbab adalah baju panjang dan longgar (milhafah). Ada yang berpendapat jilbab adalah semacam cadar (al-qinaa'), atau baju yang menutupi seluruh tubuh perempuan (ats-tsaub alladzi yasturu jami'a badan al-mar`ah). Menurut Imam Qurthubi dalam Tafsir Al-Qurthubi (14/243), dari berbagai pendapat tersebut, yang sahih adalah pendapat terakhir, iaini jilbab adalah baju yang menutupi seluruh tubuh perempuan.

sejajar dengan pendapat syeikh Taqiyuddin An-Nabhani, An-Nizham al-Ijtima'i fil Islam, hal. 45-46. jilbab bukan tudng melainkan baju panjang dan longgar (milhafah) atau baju kurung (mula`ah) yang dipakai menutupi seluruh tubuh di atas baju rumahan. Jilbab wajib dijulurkan sampai bawah (bukan baju potongan), sebab hanya dengan cara inilah dapat diamalkan firman Allah (ertinya) "mengulurkan jilbab-jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Dengan baju potongan, berarti jilbab hanya menutupi sebagian tubuh, bukan seluruh tubuh.

begitu juga dalam kitab Al Mu’jam Al Wasith karya Dr. Ibrahim Anis (Kairo : Darul Maarif) halaman 128, jilbab diertikan sebagai “Ats tsaubul musytamil ‘alal jasadi kullihi” (pakaian yang menutupi seluruh tubuh), atau “Ma yulbasu fauqa ats tsiyab kal milhafah” (pakaian luar yang dikenakan di atas pakaian rumah, seperti milhafah (baju terusan), atau “Al Mula`ah tasytamilu biha al mar’ah” (pakaian luar yang digunakan untuk menutupi seluruh tubuh wanita (tidak terputus)).

Adapun dalil bahwa jilbab merupakan pakaian dalam kehidupan umum apabila seorang muslimah keluar dari rumah adalah hadits yang diriwayatkan dari Ummu ‘Athiah RA, bahwa dia berkata :

‘Rasulullah SAW memerintahkan kaum wanita agar keluar rumah menuju shalat Ied, maka Ummu ‘Athiyah berkata,’Salah seorang di antara kami tidak memiliki jilbab?” Maka Rasulullah SAW menjawab: ‘Hendaklah saudarinya meminjamkan jilbabnya kepadanya!’(Muttafaqun ‘alaihi) (Al-Albani, 2001 : 82).

Berkaitan dengan hadits Ummu ‘Athiyah ini, Syaikh Anwar Al-Kasymiri, dalam kitabnya Faidhul Bari, Juz I hal. 388, mengatakan :

“Dapatlah dimengerti dari hadits ini, bahwa jilbab itu dituntut manakala seorang wanita keluar rumah, dan ia tidak boleh keluar [rumah] jika tidak mengenakan jilbab.” (Al-Albani, 2001 : 93).

adapun dalil yang lebih jelas mengenai jilbab bukan kain ptongan adalah dalil dari hadits Ibnu Umar bahwa beliau berkata, Rasulullah Saw telah bersabda:

“Barang siapa yang melabuhkan/menghela bajunya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada Hari Kiamat nanti.’ Lalu Ummu Salamah berkata,’Lalu apa yang harus diperbuat wanita dengan ujung-ujung pakaian mereka (bi dzuyulihinna).” Nabi Saw menjawab,’Hendaklah mereka mengulurkannya (yurkhiina) sejengkal (syibran)’ (yakni dari separoh betis). Ummu Salamah menjawab, ‘Kalau begitu, kaki-kaki mereka akan tersingkap.’ Lalu Nabi menjawab, ‘Hendaklah mereka mengulurkannya sehasta (fa yurkhiina dzira`an) dan jangan mereka menambah lagi dari itu.” [HR. At-Tirmidzi, juz III, hal. 47; hadits sahih] (Al-Albani, 2001 : 89).

Hadits di atas dengan jelas menunjukkan bahwa pada masa Nabi Saw, pakaian luar yang dikenakan wanita di atas pakaian rumah —iaitu jilbab— telah dihulurkan sampai ke bawah hingga menutupi kedua kaki.

Justeru, dengan Itu bisa kita fahami bahawa :

1. Jilbab bukan tudung
2. Jilbab adalah pakaian diluar pakaian rumah yang menjulur panjang tiada potongan.
3.
Ada dua kewajiban tertaklif terhadap wanita apabila keluar dari Rumah iaitu mengenakan Jilbabnya dan Khimarnya.


semoga dengan penjelasan di atas bisa membawa sedikit pencerahan kepada kita semua perihal Busana Muslimah di Luar Rumah, dan semoga kita semua di sini dilindungi Allah dari perlakuan dosa meninggalkan perintahNya...

Amin....

Wallahua'alam..


.

1 comments:

Fitriyana said...

Assalamualaykum,,, bolehkah saya mengcopy gambar2nya ? (picture anda?)

PERJUANGAN ITU

MEINE NASYID